HALAYUDA – Sosok Politikus Licik Majapahit

HALAYUDA – Sosok Politikus Licik Majapahit

HALAYUDA – Sosok Politikus Licik Majapahit

Dalam cerita Mahabarata, kita mengenal Sengkuni sebagai sosok yang licik. Ia dikenal karena perilakunya yang kerap menghasut untuk mencapai apa yang dia inginkan.

Jika di cerita Mahabarata ada Sengkuni, di Majapahit kita mengenal Halayuda atau kerap disebut Mahapati. Karena hasutan serta tipu daya Halayuda, banyak pemberontakan yang terjadi di Majapahit.

Sebagian sejarawan menduga bahwa Halayuda masih merupakan anggota keluarga kerajaan.

https://beritane.com/pengaruh-interaksi-sosial-terhadap-pembentukan-lembaga-sosial

Dugaan ini semakin menguat dikarenakan sikap Halayuda ketika tidak diberi kedudukan oleh Raden Wijaya. Namun belum diketahui secara jelas dari mana asal usul Halayuda.

Awal berdirinya kerajaan Majapahit sosok Halayuda belum banyak disebut. Sosok ini muncul pada masa pemerintahan Raden Wijaya, tepatnya saat terjadi perbedaan pendapat antara Raden Wijaya dengan Ranggalawe.

Perbedaan pendapat ini didasari pada pengangakatan Mpu Nambi sebagai patih. Ranggalawe berpendapat bahwa pengabdian Lembu Sora (paman Ranggalawe) lebih besar dibandingkan dengan Mpu Nambi.

Karena pendapatnya tidak diterima oleh Raden Wijaya, Ranggalawe meninggalkan Majapahit untuk kembali ke Tuban. Ketika Ranggalawe tidak ada, Halyuda memfitnah Ranggalawe dengan mengatakan kepada Raden Wijaya bahwa maksud Ranggalawe pulang ke Tuban untuk mempersiapkan suatu pemberontakan terhadap Majapahit.

Karena fitnah Halayuda, timbullah peperangan di Sungai Tambak Beras, dari perang ini Ranggalawe tewas di tangan Kebo Anabrang.

Sementara Anabrang juga tewas ditikam Lembu Sora yang tidak terima atas kematian keponakannya.

HALAYUDA – Sosok Politikus Licik Majapahit

Kelicikkan Halayuda semakin menjadi, peristiwa di Sungai Tambak Beras ia jadikan alasan untuk menyingkirkan Lembu Sora.

Ia memfitnah Lembu Sora dengan mengatakan kepada Raden Wijaya bahwa Lembu Sora akan berkhianat terhadap Majapahit.

Akibat fitnah dari Halayuda, Lembu Sora beserta kedua sahabatnya (Gajah Biru dan Juru Demung) tewas di halaman istana.

Dengan tewasnya Lembu Sora, mimpi Halayuda untuk menjadi patih tiggal satu langkah lagi. Ia berniat menyingkirkan Mpu Nambi.

Setelah Raden Wijaya mangkat, Jayanegara naik tahta menggantikannya.

Dalam Pararaton, Halayuda mengatakan pada Nambi bahwa Jayanegara tidak menyukainya.

Halayuda menyarankan kepada Nambi untuk menyingkir dari ibu kota untuk sementara waktu.

Karena kebetulan ayahnya sakit, maka Nambi pulang ke Lumajang dan diizinkan oleh Jayanegara namun tak boleh terlalu lama.

Karena ayahnya meninggal, Nambi tidak segera kembali ke ibu kota. Halayuda melapor kepada Jayanegara alasan Nambi tidak segera kembali ke ibu kota dikarenakan ia sedang menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan.

Karena perkataan Halayuda ini, Jayanegara memerintah untuk menghabisi Nambi dan keluarganya.

Setelah Nambi disingkirkan ambisi Halayuda pun tercapai.

Kelicikan yang dilakukan Halayuda terbongkar pada masa kekuasaan Jayanegara. Halayuda dicopot secara paksa dari jabatannya sebagai Patih Majapahit. Ia dihukum mati dengan cara cineleng-celeng atau dicabik-cabik tubuhnya oleh Bekel Jaka Mada.

Jabatan Patih Majapahit digantikan oleh Arya Tadah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.