Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua

Beritane.com – Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua.

Program pembinaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah kegiatan yang berkelanjutan.

Di dalamnya terdapat tiga program pokok (Trias UKS), yakni pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat.

Tujuan umum dari penyelenggaraan program UKS adalah menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bagi peserta didik di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Upaya mengimplementasikan program PHBS antara lain dengan memenuhi sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang PHBS di sekolah, termasuk di dalamnya sarana sanitasi sekolah.

Sekolah diharapkan dapat menyediakan sarana air bersih, jamban yang layak, dan tempat cuci tangan pakai sabun (CTPS).

Selain sarana, diperlukan pendidikan kesehatan yang relevan dengan jenjang pendidikan di sekolah dasar, salah satunya terkait PHBS sekarang ini adalah bagaimana memfasilitasi kegiatan menstruasi.

Seiring dengan meningkatnya status gizi, maka peserta didik perempuan di sekolah dasar sudah mengalami menstruasi.

Kelompok ini perlu difasilitasi supaya dapat menjalankan periode menstruasinya secara nyaman di sekolah,

termasuk dengan memberikan informasi yang tepat dan benar terkait tata laksana atau Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM).

Di lain pihak, guru dan orang tua juga diharapkan memiliki pemahaman yang baik dan benar

terhadap peserta didik perempuan yang sedang mengalami periode menstruasi sebagai bagian dari siklus biologis yang wajar.

Panduan Manajemen Kebersihan Menstruasi Bagi Guru dan Orang Tua” ini, dapat menjadi acuan bagi guru dan orang tua dalam menjalankan MKM di sekolah,

sebagai dukungan kepada peserta didik perempuan, sehingga tidak ada lagi peserta didik perempuan yang enggan pergi ke sekolah ketika mengalami menstruasi.

Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua

Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua

Apa itu Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) ?

Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) adalah pengelolaan kebersihan dan kesehatan pada saat perempuan mengalami menstruasi.

Perempuan harus dapat menggunakan pembalut yang bersih, dapat diganti sesering mungkin selama periode menstruasi, dan memiliki akses untuk pembuangannya,

serta dapat mengakses toilet, sabun, dan air untuk membersihkan diri dalam kondisi nyaman dengan privasi yang terjaga.

Toilet sekolah harus berfungsi baik, dengan pintu yang dapat dikunci dari dalam,

dan terpisah antara perempuan dan laki-laki, serta mempunyai wadah untuk membuang pembalut bekas.

Mengelola menstruasi dengan cara yang bermartabat adalah hak asasi bagi perempuan, baik dewasa maupun anak-anak.

Banyak anak perempuan tidak memiliki pemahaman yang tepat bahwa menstruasi mereka adalah proses biologis yang normal dan mereka justru baru mengenalnya pada saat menarke alias saat pertama kali seorang anak
perempuan mengalami menstruasi.

Hal ini diperparah dengan fakta bahwa anak perempuan sering kesulitan membeli atau mendapatkan pembalut saat diperlukan.

Di lingkungan sekolah, siswi perempuan pun sering hanya bisa mengakses fasilitas sanitasi di waktu-waktu tertentu atau saat diizinkan oleh guru.

Perempuan dewasa dan gadis remaja biasanya tidak dilibatkan dalam pembuatan keputusan dan kebijakan terkait air, sanitasi, dan fasilitas kebersihan.

MKM juga penting untuk laki-laki karena berdampak bagi meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan sistem reproduksi manusia,

meningkatnya keterampilan pola pengasuhan orang tua, dan mendorong kesetaraan gender.

Tidak hanya itu, MKM juga dapat berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan partisipasi pendidikan para anak perempuan, serta anak-anak mereka di masa mendatang.

Apa dampaknya jika Kebersihan Menstruasi tidak dikelola dengan baik?

Dampak terhadap Kesehatan

Menjaga kebersihan tubuh pada saat menstruasi, dengan mengganti pembalut sesering mungkin dan membersihkan bagian vagina dan sekitarnya dari darah, 

akan mencegah perempuan dari penyakit infeksi saluran kencing, infeksi saluran reproduksi, dan iritasi pada kulit.

Dampak terhadap Pendidikan
Penelitian UNICEF di Indonesia pada tahun 2015 menemukan fakta 1 dari 6 anak perempuan terpaksa tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih, pada saat menstruasi.

Ketidakhadiran siswi perempuan di sekolah membuat mereka ketinggalan pelajaran.

Ada beberapa alasan mengapa menstruasi dapat memicu siswi perempuan untuk membolos, seperti nyeri haid (dismenore),

sedangkan sekolah tidak menyediakan obat pereda nyeri, tidak adanya jamban yang layak di sekolah,

tidak tersedianya air untuk membersihkan diri dan rok yang ternoda darah, tidak tersedianya pembalut cadangan ketika dibutuhkan,

dan tidak tersedianya tempat sampah dan pembungkus untuk membuang pembalut bekas.

Perlakuan siswa laki-laki yang kadang mengejek juga membuat siswi perempuan enggan ke sekolah.

Tabu dan stigma pun membuat terbatasnya aktivitas siswi perempuan pada saat menstruasi, misalnya olahraga.

Dampak terhadap Partisipasi Sosial
Banyak kepercayaan dan kebiasaan masyarakat yang membuat perempuan membatasi aktivitasnya.

Akibatnya, kaum perempuan kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Misalnya larangan bermain di luar ketika menstruasi.

Dampak terhadap Lingkungan
Tidak tersedianya tempat untuk membuang pembalut bekas pakai akan mendorong siswi perempuan untuk membuangnya di lubang kloset atau di sembarang tempat di jamban sekolah.

Akibatnya, kloset dan jamban tersumbat, tidak berfungsi, dan kotor sehingga pada akhirnya tidak digunakan.

Penelitian Plan International Indonesia pada tahun 2016 menyebutkan hanya 25% anak perempuan yang diajarkan cara membuang pembalut secara benar.

Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua

Peran Guru di Lingkungan Sekolah

Perubahan kecil di tingkat sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi siswi perempuan,

terutama dengan memberikan informasi yang benar sebelum mereka mendapatkan menarke.

Beberapa rekomendasi untuk guru dan pengelola sekolah, antara lain:

menyampaikan materi kebersihan menstruasi sebagai bagian dalam pelajaran kesehatan reproduksi di sekolah,

melaksanakan MKM sebagai salah satu kegiatan wajib pada Usaha Kesehatan Sekolah (UKS),

menyediakan jamban yang ramah anak untuk siswi perempuan, menyediakan pembalut dan obat pereda rasa nyeri di ruang UKS, dan lain-lain.

Guru juga harus memberikan informasi tentang menstruasi kepada siswa laki-laki

supaya mereka dapat bersikap baik kepada teman perempuan yang sedang menstruasi.

Peran Orang Tua di Lingkungan Keluarga

Orang tua, khususnya ibu, merupakan sumber informasi yang paling banyak dijadikan rujukan oleh anak-anak perempuan terkait menstruasi,

namun orang tua tidak selalu memberikan informasi yang akurat dan menyeluruh.

Akibat ketidaktahuan dan kurangnya informasi yang benar, banyak stigma, mitos, kepercayaan, dan miskonsepsi terkait menstruasi yang berasal dari orang tua.

Misalnya, larangan kepada anak perempuan untuk makan daging ketika menstruasi.

Hal ini justru dapat meningkatkan risiko kurang gizi pada anak perempuan.

Untuk itu, orang tua diharapkan dapat menyampaikan informasi kepada anak perempuan secara terbuka serta berdasarkan data dan fakta.

Orang tua juga harus memberikan informasi tentang menstruasi kepada anak laki-laki. supaya mereka dapat menghormati perempuan yang sedang menstruasi.

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Bosan Ketika Work From Home dan Stay at Home

Bagi Anda yang membutuhkan Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua selengkapnya, dapat mengunduhnya di sini.

Demikian informasi kesehatan tentang Panduan Manajemen Kebersihan Mensturasi Bagi Guru dan Orang Tua. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.