Perang Bubat, Sebuah Kecelakaan dalam Sejarah

Perang Bubat, Sebuah Kecelakaan dalam Sejarah

Terjadi karena kesalahpahaman yang berujung peperangan, Perang Bubat menjadi kecelakaan yang besar dalam sejarah Indonesia kuno.

Dua kerajaan yang bertetangga dengan rukun sebelumnya menjadi pecah karena kesalahan salah satu pihak.

Hayam Wuruk yang Berkeinginan Memiliki Permaisuri

Perang Bubat, sebuah kecelakaan dalam sejarah.

Bermula dari hasrat Hayam Wuruk yang ingin mempunyai seorang permaisuri.

Ia mengirimkan juru gambar ke kerajaan-kerajaan bawahan maupun kerajaan tetangga untuk melukis putri-putri dari kerajaan tersebut.

Hayam Wuruk berharap jika aga lukisan seorang putri yang memikat hatinya, ia akan menikahinya.

Kerajaan Sunda menjadi salah satu kerajaan yang menjadi tujuan salah satu juru gambar.

Juru gambar yang datang ke Kerajaan Sunda adalah Sungging Prabangkara.

Sungging Prabangkara melukis putri Sunda yang bernma Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Prabu Linggabuana.

Saat Sungging kembali, Hayam Wuruk tertarik oleh sosok yang dilukisnya, yakni Dyah Pitaloka Citraresmi.

Dengan persetujua keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan utusan untuk menyampaikan maksud Hayam Wuruk menikahi Dyah Pitaloka.

Pada pertemuan anatara utusan Hayam Wuruk dan Prabu Linggabuana, disepakati bahwa upacara pernikahan dilaksanakan di Majapahit.

Kedatangan Rombongan Sunda ke Majapahit

Perang Bubat, sebuah kecelakaan dalam sejarah.

Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka datang ke Majapahit diiringi sedikit prajurit.

Sebenarnya Patih Hamangkubumi kerajaan Sunda, yakni Hyang Bunisora Suradipati tidak menyetujui pernikahan dilaksanakan di Majapahit.

Menurutnya tidak lazim pihak pengantin wanita datang ke pengantin pria.

Meskipun begitu, Prabu Linggabuana tetap datang ke Majapahit.

Setibanya di Majapaht, rombongan Prabu Linggabuana disambut dengan baik di Pasanggrahan Bubat. 

Gajah Mada yang berambisi untuk memenuhi Sumpah Palapa mengatakan pada Prabu Linggabuana untuk menyerahkab Dyah Pitaloka sebagai tanda takluk Sunda terhadap Majapahit.

Walaupun merasa harga dirinya diinjak-injak, Prabu Linggabuana tidak serta merta melakukan perlawanan di tempat itu.

Rombongan Sunda mendesak agar Hayam Wuruk menerima Dyah Pitaloka sebagi permaisuri, bukan sebagai tanda takluk Sunda tehadap Majapahit.

Sementara itu, Gajah Mada mendesak agar Hayam Wuruk menikahi Dyah Pitaloka sebagai selir.

Perselisihan antara Gajah Mada dan Linggabuana tidak bisa dihindari hingga terjadinya peperangan antara kedua belah pihak.

Baca juga: https://beritane.com/latar-belakang-munculnya-paham-sosialisme

Pasukan Bhayangkari yang jumlahnya banyak tidak seimbang dengan pasukan Sunda yang jumlahnya sedikit.

Peperangan berakhir dengan gugurnya Linggabuana beserta pasukannya.

Dyah Pitaloka yang mengetahui ayahnya gugur, ia melkukan bela pati.

Bela pati adalah bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya.

Hayam Wuruk yang merasa menyesal dan berduka mengirimkan utusan untuk memohon maaf terhadap Patih Hamengkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi raja sementara kerajaan Sunda.

Akibat perang ini, hubungan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada merenggang.

Sementara itu, di Sunda muncul larangan wanita Sunda untuk menikah dengan pria Jawa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.