Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran

Dalam usaha pengembangan kurikulum dan pembelajaran terdapat sejumlah prinsip yang dipakai sebagai landasan agar kurikulum yang dihasilkan memenuhi keinginan yang diharapkan.

Prinsip-prinsip umum meliputi :

Relevansi

Dalam hal ini dapat dibedakan relevansi keluar yang berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar

harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan relevansi ke dalam berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi

antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian yang menunjukkan keterpaduan kurikulum.

https://bertema.com/latihan-soal-akm-kelas-2-sd-mi

Masalah relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan di masyarakat paling tidak dapat dijangkau dari 3 segi:

  1. dengan lingkungan murid atau masyarakat setempat.
  2. pendidikan kaitannya dengan tuntutan pekerjaan.
  3. kaitannya dengan perkembangan kehidupan masa kini dan yang akan datang.
  4. Fleksibilitas

Kurikulum harus dapat mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain,

bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda.

Hal ini berarti bahwa kurikulum harus berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya

memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.

Prinsip fleksibilitas mempunya dua sisi: pertama, fleksibel bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk

mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.

Kedua, fleksibel bagi siswa artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Kontinuitas

Terkait dengan perkembangan dan proses belajar anak yang berlangsung secara berkesinambungan,

maka pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya,

antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, serta antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.

Untuk menjaga agar prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan,

misalnya para pengembang pendidikan pada jenjang SD, SMP, SMA, dan bahkan di perguruan tinggi.

Praktis/efisiensi

Prinsip efisisensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.

Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi ysng tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal

dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.

Baca juga: John Locke dan Gagasannya dalam Revolusi Perancis

Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya murah.

Dalam hal ini, kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.

Efektifitas

Efektifitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Kurikulum merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan dari kebijakan-kebijakan pemerintah.

Dalam pengembangannya, harus memperhatikan kaitan antara aspek utama kurikulum

yaitu tujuan, isi, pengalaman belajar, serta penilaian dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Contoh: apabila guru menetapkan dalam satu semester harus menyelesaikan 12 program pembelajaran

sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4 atau 5 program saja,

berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.